Lantas mengapa ?

•September 9, 2009 • 1 Comment

Mengapa kau sandarkan segala sisi kehidupanmu kepada selain Sang Maha Pintar dan Mengetahui Tentang Bagaimana Menjalani Kehidupan ??
Kau otak-atik berjuta kata
Kau bongkar beribu buku
Tapi kau lupakan yang seluruh jin dan manusia tak sanggup menandinginya
Kau lebih pintar kah ??
Mereka lebih tau kah ??

Lantas mengapa ???

Masih ?

•June 1, 2009 • 3 Comments

Masih merasa lebih pinter ketimbang Yang menciptakanmu ?

Masih merasa lebih tau tentang kehidupan ketimbang Yang menciptakan kehidupanmu ?

Masih ?

Bukan Cinta Biasa

•May 25, 2009 • Leave a Comment

*lagi di kamar mandi*

*bersenandung*

Kali ini kusadari
Aku telah jatuh cinta
Dari hatiku terdalam
Sungguh aku cinta padamu…

tapi yang keluar dari mulut :

Nani nini nanu  nani
Aku telah nanu nina
Nani nanu nene nana
Nanu nanu na nanu…

Cintaku bukanlah cinta biasa
nana nana na nana nani
na nanu na nene nani na ne nenu

Neni nana nene nanu
Nene nana nana na nanu
Nene nini nana nanu
Nana nanu nana nununu

Cinta ku bukan cinta biasa
Nana nanu na nene nani
Na nanu na nene nani nene nununu
Nene nana nene nanu

*keluar kamar mandi, penuh semangat, with powerful sound, actually almost yelling*

Ciiintaaa ku bukan cinta biiiiiaaaasaaaa….

dan sebuah suara lembut menyahuti…

atau lebih tepatnya menggerutu, “huh.. emang bukan cinta biasa… soalnya diselingkuhin melulu…”

*senandung pun tak lagi berlanjut, berganti sebuah senyum kecut*

“Itu lagunya Afgan, Mah…”, si bontot nimbrung, innocently of course…

*buru-buru ngeloyor ke kamar*


Ilahi, kuadukan pada-Mu…

•May 10, 2009 • Leave a Comment

diri

yang memerintahkan kejelekan

yang bergegas melakukan kesalahan

yang tenggelam dalam maksiat pada-Mu

yang menantang kemurkaan-Mu

yang membawaku pada jalan kebinasaan

menjadikan aku orang celaka yang terhina

yang banyak noda

yang berangan hampa

bila ditimpa bencana ia berkeluh kesah

kala untung diraih bakhil bertambah

cenderung pada mainan dan hiburan

dipenuhi kealpaan dan kelalaian

mendorongku berbuat dosa

menghalangiku bertaubat

.

Ilahi, kuadukan pada-Mu…

musuh yang menyesatkan

setan yang menggelincirkanku

ia telah memenuhi dadaku dengan keraguan

godaannya telah menyesakkan hatiku

sehingga hawa nafsu menopangku

ia hiaskan bagiku cinta dunia

ia menghalangiku untuk taat dan taqarrub

.

Ilahi, kuadukan pada-Mu…

hati yang keras dengan guncangan was-was

yang tertutup noda dan kekufuran

mata yang beku untuk menangis karena takut pada-Mu

tetapi cair untuk kesenangan dirinya

.

Ilahi,

tiada daya dan kekuatan

kecuali dengan kuasa-Mu

tiada keselamatan bagiku dari bencana dunia

kecuali dengan penjagaan-Mu

aku memohon pada-Mu

dengan keindahan hikmah-Mu

dengan pelaksanaan kehendak-Mu

jangan biarkan aku mencari karunia selain-Mu

jangan jadikan aku sasaran cobaan

jadilah Engkau

Pembelaku melawan musuhku

Penutup cela dan aibku

Pelindung dari bencana

Penjaga dari durhaka dengan kasih dan sayang-Mu

Wahai Yang Paling Mengasihi dari segala yang mengasihi

(diambil dari khazanah doa keluarga Nabi Saaw)

Hidup

•April 27, 2009 • Leave a Comment

Kehidupan.

Sebuah kata yang menggelitik benak saya ketika hari-hari saya dipenuhi oleh pikiran tentang kematian.

Tak ada penjelas terbaik tentang kehidupan kecuali Sang Pemilik Kehidupan, begitu pikir saya.

Buka laptop, klik icon ‘Al-Qur’an Digital’.

Yupp. So simpel.

Ad-diinu yusr. Agama itu mudah, kata Nabi Saaw.

Buka menu Search, lantas saya isikan kata ‘kehidupan’ .. and click.

Muncul sebanyak 133 topik yang memuat kata ‘kehidupan’. Dinamakan topik karena yang muncul bukan cuman ayat tapi juga termasuk di dalamnya mukadimah (pengantar) terjemahan dan penjelasan ayat.

Satu persatu saya klik dan baca isinya.

Beberapa ayat menjelaskan dengan gamblang tentang makna kehidupan di dunia dan  seluruhnya berbicara mengenai kehidupan dunia yang menipu dan kehidupan akhirat lah kehidupan yang sebenarnya. Beberapa di antaranya seperti berikut ini :

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir. (QS Yunus: 24)


Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS Al-Hadiid: 20 )

Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Al-Kahfi: 45)

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.  (QS Luqman: 33)

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS Al-An’aam: 32)

Dan ketika saya menemukan sebuah ucapan fasih di blog bagus ini, bagaikan menyimpulkan ayat-ayat tersebut,  melengkapi hujaman ke dalam hati saya. Untaian kalimat penuh makna dari sosok agung seorang Ayatollah Khomeini di momen peringatan tujuh hari wafat anaknya yang konon dibunuh Savak (agen rahasia Shah Iran) :

Dunia ini hanyalah perlintasan; ia bukanlah tempat yang seharusnya kita tinggali. (Dunia) ini hanyalah jalan, inilah Titian Sempit… Apa yang disebut Kehidupan di dunia ini bukanlah Kehidupan melainkan Kematian… Kehidupan sejati hanyalah yang tersedia di Akhirat… Kita berada di sini, dalam Kehidupan rendah dan hina ini sekadar untuk melaksanakan tugas-tugas yang Allah tentukan bagi kita. Boleh jadi, karena kebodohan, kita menganggap segenap tugas itu sebagai sukar; namun sebenarnya semua tugas ini adalah bukti paling nyata dari kemurahan Allah (kepada kita)…Tak seorang pun menjadi manusia hakiki tanpa melintasi Titian Sempit ini.


Duhai, apa yang telah saya perjuangkan untuk kehidupan yang menipu ini, dan apa yang telah saya telantarkan untuk kehidupan hakiki yang sudah pasti menanti.

MATI

•April 13, 2009 • 5 Comments

Yupp.
Mati… Kematian…
Itu yang akhir-akhir ini saya pikirkan.
Bukan.
Bukan saatnya, atau yang biasa disebut sakaratul-maut, tapi lebih kepada apa yang akan terjadi setelahnya.

Konon ketika Rasulullah Saaw ditanya tentang perbandingan kehidupan dunia dan akhirat dari segi masanya, beliau menggambarkan singkatnya kehidupan dunia itu bagaikan “kedipan mata”.
Iya, kedipan mata.
Suatu saat, di kesenyapan hari, saya mencoba memahami makna “kedipan mata” ini sedalam-dalamnya.
Memejamkan mata,  mencoba menghayati sebisa mungkin makna singkatnya “kedipan mata”.
Dan hati saya sontak menjadi keruh.
Nyali saya ciut.
Keringat dingin terasa mengalir.

Kedipan mata dibanding dengan, let say, 65 tahun ?
70 tahun ?
Berapa umur saya akan berakhir nanti ?
Taruhlah 76 tahun, seusia almarhum ayah saya.
Kedipan mata dibanding 76 tahun.

Mungkin bisa kita buat matematikanya lebih jauh lagi, satu kedipan mata sama dengan sepersekian detik dibanding dengan 76 tahun bla… bla… bla…
Tapi tentunya Nabi Saaw tak sedang mengajarkan matematika pada saat itu.
Jelas maksud beliau adalah betapa sangat… sangat… pendeknya kehidupan dunia dibanding dengan kehidupan akhirat kelak.

So ?
Apakah hitung-hitungan waktu ini yang membuat hati saya keruh saat itu ?
Tentu saja tidak.
Apa yang akan saya alami kelak lah yang membuat hati saya keruh.
Keruh lantaran membayangkan siksaan dan adzab nan pedih yang akan saya terima sebagai konsekwensi logis segenap dosa dan kemaksiatan yang telah saya lakukan.

Konon Nabi Saaw pernah bersabda bahwa betapa bodohnya manusia jika dia mengetahui hakekat kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan di akherat, tapi ia tak mempersiapkannya dengan baik dan malahan menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, harta dan segenap dayanya hanya untuk kehidupan dunia yang fana, yang hanya “sekedipan mata”.

Duhai, betapa bodohnya saya.

Let me go

•February 11, 2009 • 3 Comments

Maafkan aku yang biarkanmu
Masuk ke dalam hidupku ini
Maafkan aku yang harus melepasmu
walau ku tak ingin

Semakin ku menyayangimu
Semakin ku harus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini

Doa dan air mataku untukmu Gaza

•January 8, 2009 • 6 Comments

Karena hanya itu yang bisa kulakukan untukmu.

Continue reading ‘Doa dan air mataku untukmu Gaza’

Selamat merayakan Maulid Nabi Isa as.

•December 26, 2008 • Leave a Comment

Tak ada yang berubah dalam keyakinan saya.
Tak ada yang berubah dalam logika saya.
Tak ada yang berubah dalam hati saya.

Laa ilaaha ilalloh wahdahu laa syarikalah
Wa Muhammadun abduhu wa rasuuluh
Tak ada Tuhan selain Alloh, Tunggal tak berserikat
Dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya

Tegas Ia katakan :

Ia tak memiliki anak dan tidak diperanakkan. (QS. Al-Ikhlas: 3)

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara. (QS. An-Nisa’: 171)

Namun itu tak menghalangi saya untuk menghormati anda yang memiliki keyakinan berbeda dengan saya.
Tak menghalangi saya untuk mengucapkan selamat kepada orang yang bergembira atas kelahiran seorang Nabi yang diperintahkan oleh Alloh saya untuk mengimaninya.
Sebagaimana saya bergembira pada hari Maulid Rasululloh Muhammad Saaw.

(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),
dan dia berbicara dengan manusia ketika dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Aali-Imran: 45-46)

Selamat bagi anda yang bergembira pada hari Maulid Nabi Isa alayhis-salaam.
Selamat merayakan hari Natal.

Semoga damai selalu bersama kita.

Apakabar Ibu ?

•December 23, 2008 • 3 Comments

Ah… pertanyaan yang salah…

Ibu pasti dalam keadaan baik bersama Ayah.

Kirimanku sampai kan Bu ? Insya Alloh sampai lah…

Yah, mungkin memang sekedar camilan dan makanan kecil.

Tapi Ibu, setidaknya aku berusaha lima kali dalam sehari mengirimkannya ke rumah Ibu. Paling sedikit sekali dalam sehari.

Dan kuusahakan setiap hari Jum’at aku membawanya sendiri ke rumah Ibu.

Ibu,

doakan aku selalu ‘kay?

Seperti yang selalu Ibu lakukan bahkan di kesunyian malam hari, menengadahkan kedua tangan di tengah ketakberdayaanmu terlentang di atas tempat tidurmu, kau sebut satu persatu nama kami dalam doamu, ketika kami anak-anakmu bahkan tak menyadari kau tak bisa tidur semalaman terganggu kesakitanmu.

Ibu,

maafkan aku ‘kay?

Maafkan segala kekuranganku selama ini.

Maafkan segala derita yang kusebabkan.

Maafkan segala kekecewaan yang kujejalkan.

Maafkan aku bahkan tak mampu membalas sekedar seujung kuku samudera kasih dan pengorbanan yang telah kau persembahkan padaku.

Maafkan aku jika setiap Jum’at tak mampu menahan isak tangisku ketika memeluk pintu rumahmu.

Bahkan ketika menuliskan ini.

Aku cuma rindu, Bu.

Aku rindu pada wujud malaikat yang Tuhan kirim ke dunia untuk menjelma menjadi dirimu, Ibu.

“Berkat kasih abadinyalah maka para ibu menjadi kukuh seperti Arsy Alloh, memiliki kekuatan untuk menanggung kesakitan dan kesusahan menjadi seorang ibu, sejak awal kehamilan, selama kehamilan, persalinan, tahun-tahun sang anak masih bayi, dan bahkan sepanjang hidupnya. Itulah hal-hal yang seorang ayah tak bisa menanggungnya walau hanya semalam.


Satu hari yang dijalani seorang ibu dalam mengurusi anaknya, bernilai lebih besar ketimbang bertahun-tahun kehidupan seorang ayah yang baik. Kelembutan dan kasih sayang yang terkandung dalam mata berbinar seorang ibu adalah kilatan kasih sayang Alloh Swt.”

(Ayatullah Ruhullah Khomeini)