Persahabatan pria-wanita
Bisakah ?
Adakah ?
Yang sejati tentunya.
Tanpa meminggirkan sisi kewanitaan atau kepriaan sang sahabat.
Ada seorang teman yang kutanya mengenai ini. Dia dengan bangga berkata, “aku bisa… aku punya seorang sahabat wanita..”. Tapi dengan beberapa pertanyaan dia baru menyadari bahwa ternyata itu bisa dilakukannya dengan mengabaikan sisi kewanitaan sang sahabat.
Dalam banyak hal dia bahkan lupa kalo si sahabat ini adalah seorang wanita.
Seorang teman yang lain malah lebih parah, karena ternyata ia memendam rasa.
Dengan berandai menghilangkan satu atau lebih barrier, kita bisa berpindah ke bentuk hubungan yang lebih dari sekedar bersahabat.
So ?

Jadi, tetap saja pertanyaannya belum terjawab: apa memang bisa perempuan dan laki-laki bersahabat tanpa menghilangkan kelelakian dan keperempuanan keduanya?
Setahuku, ‘merasa’ menjadi perempuan ataupun laki-laki itu sebuah hakikat yang tidak bisa dipisahkan dari kemanusiaan kita. Lantas?
kalau memang harus meminggirkan sisi itu, ya sudah, ga papa. yang penting bersahabat dengan sehat.
@mlandhing:
Justru itu yang menjadi pertanyaan bagiku, di manakah letak kehakikian persahabatan pria dan wanita ?
@princess:
I beg you pardon, your excellency *take a bow*
Kalo kita harus meminggirkan kepriaan atau kewanitaan kita, lantas di mana letak kesejatian dari persahabatan itu sendiri ?
dulu aku yakin banget bahwa persahabatan 2 orang dewasa berlainan jenis hampir pasti berakhir di kasur. Ternyata banyak juga yang tidak seperti itu kok.
menurutku hakikat kesejatian adalah ketika masing-masing tidak memberikan label terhadap yang lain.
jadi, tidak ada si kaya dan si miskin…. si pintar dan si bodoh…. apalagi laki-laki dan perempuan.
selagi dalam diri kita terdapat berbagai label baik terhadap diri sendiri, apalagi terhadap orang lain, jangan harap kau menemukan kesejatian itu.
semoga, kau menemukan kesejatianmu.
mbakyu mlanding metu sejati-ne, jangan keliru ama bentoel sejati ya