indahnya negeriku

Indah kan ?
Negeri ini sungguh beruntung karena Tuhan telah menganugerahkan padanya alam yang cantik molek.
Dan saya juga beruntung karena keindahan itu bisa saya nikmati dalam keseharian saya. Gambar di atas itu adalah working environment saya.


Pekerjaan saya mengharuskan saya berada di pedalaman tanah Bugis. Butuh waktu 3 jam dari Makassar menuju ke sana, melewati daerah wisata Malino yang jadi kondang se-Indonesia lantaran menjadi tempat pertemuan untuk mendamaikan antar kelompok masyarakat yang bertikai di Maluku dan Poso.

Berada jauh dari keluarga dan kawan, berhari-hari bahkan berminggu-minggu bukanlah suatu kondisi yang nyaman. Tapi kemolekan alam di lingkungan kerja saya ini menjadi kompensasi yang membuat saya bisa bertahan dengan ketidaknyamanan itu. Ditambah lagi dengan sejuknya udara di sini yang serasa begitu fresh, nyaris tak ada polusi karena kondisi alamnya yang begitu hijau. Walaupun kadang dalam bulan-bulan tertentu dinginnya malam membuat saya menggigil.
Daerah ini masih memiliki hutan yang lebat, tak ada tanah kosong, antara desa satu dengan yang lain selalu dipisahkan oleh hutan. Kawasan desa hutan tepatnya.
Saya merasakan perbedaan ketika bernafas di sini, serasa begitu lega, plong. Saya nyaris tak pernah sakit di sini, betapa bedanya hampir selalu begitu saya pulang ke Surabaya baru seminggu sudah flu.

Ditambah lagi dengan keramahan masyarakatnya, khas masyarakat desa yang bersahaja. Dulu ketika saya akan berangkat ke sini, saya membayangkan orang Bugis adalah masyarakat dengan karakter keras. Ternyata dugaan saya salah. Mereka justru sangat ramah, dan yang begitu membekas di ingatan saya ketika masih baru datang adalah mereka selalu membalas senyuman, kendati tak kenal, walaupun cuman saling melintas di jalan.
Alhasil seperti halnya masyarakat lainnya, khususnya di Indonesia, pada dasarnya ramah walaupun mungkin ada sebagian daerah memiliki karakter lebih keras ketimbang daerah lainnya, begitu juga di Sulsel ini.
Sepengetahuan saya Sulsel memiliki beberapa kelompok masyarakat atau suku, antara lain Bugis, Makassar, Mandar, Toraja dan mungkin masih ada lainnya yang saya tidak tahu. Masing-masing suku memiliki bahasa dan karakter yang berbeda, bahkan di dalam satu suku bisa terjadi perbedaan dialek dan karakter masyarakat dari satu daerah ke daerah lainnya.
Ada juga terjadi semacam asimilasi bahasa, seperti misalnya di salah satu areal kerja saya. Masyarakatnya sebetulnya termasuk suku Bugis tapi mereka tidak menggunakan bahasa Bugis dan tidak juga menggunakan bahasa Makassar. Mereka menggunakani apa yang mereka sebut bahasa Konjo, yang menurut saya adalah asimilasi antara bahasa Bugis dan Makassar mengingat secara demografi daerah tersebut berbatasan dengan masyarakat (bukan kota) Makassar.

Alam di sini memang memanjakan masyarakatnya, tanahnya subur, sumber air cukup. Sebagian masyarakat masih memanfaatkan sungai untuk beberapa kegiatan mereka, seperti mandi dan mencuci pakaian.

Sebuah pemandangan yang sering saya nikmati dalam perjalanan saya di sini. Seperti halnya gambar ini. Inilah potret keseharian sebagian masyarakat di sini. Anak-anak dengan gembira mandi dan bermain di sungai.
Tentu saja yang bagian orang dewasa, khususnya wanita, tidak saya tampilkan di sini. Salah satu ‘keindahan’ yang juga mengobati kebosanan saya di sini :-D
(eits…eits.. ini kok pada ngelemparin kertas ke saya… )

~ by Prince on July 17, 2008.

2 Responses to “indahnya negeriku”

  1. jadi pengen ikutan mandi di sungai…

  2. Mudah-Mudahan keelokan alamnya abadi ya!!!

    hehe..Salam Kenal:D

Leave a Reply