MATI

Yupp.
Mati… Kematian…
Itu yang akhir-akhir ini saya pikirkan.
Bukan.
Bukan saatnya, atau yang biasa disebut sakaratul-maut, tapi lebih kepada apa yang akan terjadi setelahnya.

Konon ketika Rasulullah Saaw ditanya tentang perbandingan kehidupan dunia dan akhirat dari segi masanya, beliau menggambarkan singkatnya kehidupan dunia itu bagaikan “kedipan mata”.
Iya, kedipan mata.
Suatu saat, di kesenyapan hari, saya mencoba memahami makna “kedipan mata” ini sedalam-dalamnya.
Memejamkan mata,  mencoba menghayati sebisa mungkin makna singkatnya “kedipan mata”.
Dan hati saya sontak menjadi keruh.
Nyali saya ciut.
Keringat dingin terasa mengalir.

Kedipan mata dibanding dengan, let say, 65 tahun ?
70 tahun ?
Berapa umur saya akan berakhir nanti ?
Taruhlah 76 tahun, seusia almarhum ayah saya.
Kedipan mata dibanding 76 tahun.

Mungkin bisa kita buat matematikanya lebih jauh lagi, satu kedipan mata sama dengan sepersekian detik dibanding dengan 76 tahun bla… bla… bla…
Tapi tentunya Nabi Saaw tak sedang mengajarkan matematika pada saat itu.
Jelas maksud beliau adalah betapa sangat… sangat… pendeknya kehidupan dunia dibanding dengan kehidupan akhirat kelak.

So ?
Apakah hitung-hitungan waktu ini yang membuat hati saya keruh saat itu ?
Tentu saja tidak.
Apa yang akan saya alami kelak lah yang membuat hati saya keruh.
Keruh lantaran membayangkan siksaan dan adzab nan pedih yang akan saya terima sebagai konsekwensi logis segenap dosa dan kemaksiatan yang telah saya lakukan.

Konon Nabi Saaw pernah bersabda bahwa betapa bodohnya manusia jika dia mengetahui hakekat kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan di akherat, tapi ia tak mempersiapkannya dengan baik dan malahan menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, harta dan segenap dayanya hanya untuk kehidupan dunia yang fana, yang hanya “sekedipan mata”.

Duhai, betapa bodohnya saya.

~ by Prince on April 13, 2009.

5 Responses to “MATI”

  1. halo om prince…yg still brewokan hehehe…apa kabar? masih inget aku kan? semoga dalam keadaan yg baik2 aja.

    Wah topiknya berat euy, tentang kematian

    “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imron : 145)
    Rasulullah SAW pernah berkata betapa cerdas dan beruntungnya manusia yg tidak tertarik pada duniawi dan lebih tertarik untuk mempersiapkan kehidupan akhiratnya kelak walaupun semua manusia akan menjauhinya.
    So, om prince, mari jangan lupakan ibadah akhirat kita, dan hidup itu cuma sekedipan mata, sungguhpun kehidupan kita yg sbnrnya adalah di akhirat. Yah inget2 dosa jg deeh hehehe…
    Maaf nih klo ada kata2 yg bikin om prince tersinggung, cuma saling mengingatkan aja kok, bukankah sesama muslim harus begitu.

  2. @tommi:
    hey young man… kok nemu juga kau ke sini… he..he..he..
    eh… kok tulisanmu nadanya “dah tua om… inget mati lah… kasi kesempatan dong ama yg muda-2 kaya gue….” :p :p

    gimana dah ada skor ?

  3. Blm ada skor nih om prince, hehehe masih 0-0… :D
    Masih terus berusaha mengejar “prestasi” hehehe

    Skrg udh jarang online ya? Udh sibuk nih kali ya ama kerjaan di daerah sana…

  4. saya juga bodoh….

  5. bodoh bukan berarti harus terlena dalam rasa ‘bodoh’ itu sendiri kan ? :)

Leave a Reply